Herbal Anugrah Alam

   Daun Tapak Dara untuk Diabetes

 

                Tapak dara lebih dikenal sebagai tanaman hias. Nama lokalnya kembang sari cina dan kembang pletekan. Bunganya berbentuk terompet, warnanya merah muda seperti rose dengan merah tua dibagian tengah, putih dengan kuning muda ditengah atau putih dengan merah ditengah. Belakangan ini lebih dikenal dengan sebutan tapak dara.

                Tanamannya berupa terna berbatang lunak tapi hidup menahun. Tingginya hanya 20-80 cm. Daunnya yang bulat telur memanjang tersusun berhadap-hadapan pada batang itu. Diketiak daun inilah muncul bunganya yang bisa merah rose atau putih. Tapi munculnya selalu didaerah pucuk batang.

                Dulu daun tanaman ini pernah populer untuk mengobati tumor karena kandungan Vinblastinnya, sejenis alkaloid yang anti neoplastik (mampu menumpas sel-sel tumor). Vinblastin (kependekan dari Vinca-leucoblastin) yang disarikan dari daun, pernah diolah menjadi obat paten yang diedarkan sebagai Velban Exal dan Volbe. Kini obat-obat itu sudah tidak dibuat lagi karena selain kurang manjur juga berakibat samping menimbulkan rasa nyeri.

                Selain vinblastin, sari daun tapak dara juga mengandung vindolin, sejenis alkaloid lain berbentuk metilester dari asam karboksilat aspidospermidin. Di India daun tapak dara ini sudah lama dimanfaatkan sebagai obat anti diabetes terutama oleh peramu obat tradisional.,demikian juga di Filipina.

                Sampai sekarang belum jelas bagaimana mekanisme kerja vindolin ini dalam mengobati kencing manis, karena belum pernah ada penelitian mengenai hal ini.

                Untuk mengobati diabetes hanya perlu diambil segenggam daun tapak dara yang direbus dalam air 3 gelas, setelah mendidih dibiarkan begitu saja terus sampai menyisakan 2 gelas air, kemudian diminum 3 kali sehari

                Menurut pengalaman orang-orang yang suka memanfaatkannya, dalam seminggu saja rasa lemah badan dan sering capai gara-gara kencing manis itu sudah hilang.

 

 

Sumber : Majalah Trubus 263. TH. XXII. Oktober 1991. Penulis, Slamet Soeseno. 

Update terakhir: October 23. 2021 11:31:44
Pilihan Bahasa